Klikers

Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

Tips Persiapan Bulan Ramadhan

Pertama, I'dad Ruhi Imani, yakni persiapan ruh keimanan.

Orang-orang yang saleh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Biasanya mereka berdoa: "Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan."

Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan, bulan Rajab dan Sya'ban adalah masa pemanasan (warming up), sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu bak sudah terbiasa.

Kedua, adalah I'dad Jasadi, yakni persiapan fisik.

Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktivitas saat berkecimpung dalam gerak dinamika masyarakat.

Ketiga, adalah I'dad Maliyah, yakni persiapan harta.

Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Memersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.

Keempat, adalah I'dad Fikri wa Ilmi, yakni persiapan intelektual dan keilmuan.

Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan perlbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan.

Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui. Aamiin.

Selasa, 17 Mei 2011

Bersin...

Pernahkah anda sadar bahwa hal ini anda lakukan setiap anda bersin? Yaitu memejamkan mata alias merem. Yup…

Setiap kali kita bersin maka mata kita akan terpejam dengan sendirinya tanpa harus kita perintah sebelumnya.


Bersin adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung, sehingga secara otomatis tubuh akan menolak bakteri itu. Syaraf-syaraf yang terdapat di hidung dan mata itu sebenarnya saling bertautan, sehingga pada saat kita bersin, maka secara otomatis mata kita akan terpejam. Hal ini untuk melindungi saluran air mata dan kapiler darah agar tidak terkontaminasi oleh bakteri yang keluar dari membran hidung.

----------------

Selain itu, pada saat kita bersin, secara refleks maka otot-otot yang ada di muka kita menegang, dan jantung kita akan berhenti berdenyut atau berhenti berdetak untuk sementara (baca = sekejap). Setelah selesai bersin maka jantung akan kembali lagi berdenyut alias berdetak kembali. Oleh karena itu, dalam agama Islam kita disarankan untuk mengucapkan kalimat pujian kepada Tuhan yaitu “Alhamdulillah” yang artinya “Segala Puji bagi Allah”, karena jantung kita sudah berfungsi lagi normal seperti biasanya, setelah istirahat sejenak disebabkan oleh bersin kita tadi.

Satu lagi, saking kuatnya tenaga bersin kita, mata kita sampai terpejam. Jikalau mata kita tidak terpejam saat bersin, niscaya mata akan “melompat” keluar. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri… Hehehehe kalau bisa…

Mau mencoba bersin tanpa merem???

Berapa lama kita bersin? Karena bersin adalah pengeluaran udara, maka lama bersin akan sama dengan kecepatan udara tersebut keluar dari hidung, yaitu sekitar 70 meter/detik. Waw! Cepat sekali ya! Saat kita bersin, kita mengeluarkan butir-butir air yang terinfeksi oleh bakteri yang ingin dikeluarkan dari hidung/mulut. Dalam satu kali bersin, kita mengeluarkan sekitar 40.000 butir air dan siap tersebar kemana saja. Wah! Ini perkara serius, hehehe.

Untuk itu, jangan arahkan bersin Anda ke tempat yang ramai, karena bakteri yang kamu keluarkan akan menyebar ke mereka. Carilah arah yang sepi untuk melakukan hajat ini karena bukan saja akan mengganggu stabilitas udara sekitar dengan berbagai macam virus dan bakteri dari mulut anda, tapi bisa saja anda akan kena batunya (bonyok misalnya dikeroyok warga gara-gara bersin sembarangan hehe, segitunya amat sih!) :D

--------------

Shared from: milis kesehatan

NB: punya share dari facebook kiriman Nianiza Trisna. ^_^

Senin, 18 April 2011

Zakat Investasi

Zakat Investasi adalah yang dikenakan terhadap harta yang di peroleh dari hasil investasi.

Contoh: bangunan atau kendaraan yang disewakan. Zakat investasi dikeluarkan pada saat menghasilkan, sedangkan modal tidak dikenakan zakat. Besar zakat yang dikeluarkan 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 % untuk penghasilan bersih.

Contoh: Hj. Nurul adalah seorang yang kaya raya, ia memiliki rumah kontrakan berjumlah 20 rumah, dengan tarif perbulannya seharga Rp. 300.000,-/rumah. Setiap bulannya Hj. Nurul mengeluarkan Rp. 500.000,- untuk biaya perawatan seluruh rumah kontrakannya. Apakah Hj. Nurul termasuk yang wajib membayar zakat? Berapakah zakatnya?

Penghasilan dari rumah kontrakan dianalogikan dengan zakat pertanian atau hasil tani, yaitu nishabnya senilai 653 kg beras dengan tarif 5% dari bruto atau 10 % dari netto. Setiap bulannya Hj. Nurul memiliki penghasilan sebanyak 20 x 300.000,- = Rp. 6.000.000,-

Ada dua cara dalam menghitung zakatnya:

1. Bruto : Hasil investasi x 5%= Zakat investasi Rp 6.000.000 x 5 % = Rp 300.000 Jadi zakat investasinya Rp. 300.000,-

2. Netto : (hasil Investasi – Biaya yang dikeluarkan) x 10% = zakat investasi (Rp. 6.000.000 – Rp 500.000) x 10 % =550.000 Jadi zakatnya adalah Rp.550.000,-

-----------

Newsletter edisi 9/ Agustus 2010/ ramadhan 1431 H

Zakat Tabungan

Uang simpanan yang telah mengendap selama 1 (satu) tahun dan mencapai nilai minimal (nishab) setara 85 gr emas, asumsi harga emas 1 gr saat ini sebesar Rp. 300.000,- wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 % dengan perhitungan: (Saldo akhir tahun + Bagi Hasil) x 2,5 % = Zakat tabungan.

Apabila di bank konvesional , bunga bank tidak dihitung sebagai harta yang dizakatkan. Sedang bagi hasil di bank syariah, juga dihitung sebagai harta yang dizakatkan.

Contoh :

Saldo tabungan akhir tahun Bapak Andi sebesar Rp 50 juta. Dengan bagi hasil setahun sebesar Rp 600 ribu. Perhitungan zakatnya sebagai berikut: (Rp. 50.00.000 + Rp. 600.000) x 2,5 % = Rp.1.265.000. Maka Bapak Andi wajib mengeluarkan zakat tabungan sebesar Rp. 1.265.000,-

-------------

Newsletter edisi 9/ Agustus 2010/ ramadhan 1431 H

Selasa, 12 April 2011

Zakat Profesi/Penghasilan

Zakat profesi/ penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil profesi seseorang baik, guru, dokter, arsitek, notaris, pengusaha, PNS, TNI, LSM, hakim, aktivis dan lain-lainya Nishab sebesar 5 wasaq atau setara dengan 653 kg bahan pangan pokok (yang siap dikonsumsi ) seperti kurma, gandum, beras atau jagung.

Besar zakat profesi yaitu sebesar 2,5 %. Jika standar harga beras/kg sebesar Rp. 5000/kg, nilai nishab sekitar Rp. 3.265.000,- Contoh: Bapak Ahmad adalah seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Setiap awal bulan ia mendapat gaji dari perusahaan tersebut sebesar Rp. 6.000.000,-. Karena besar gaji bapak ahmad sudah memenuhi nishab maka Bapak Ahmad wajib mengeluarkan zakat dengan perhitungan Rp.6.000.000 x 2, 5 % = Rp. 150.000,-

(newsletter PKPU edisi 9/ramadhan 1431 H)

Ternyata nggak banyak kan zakatnya... Mari tunaikan kewajiban, bila sudah sampai nishab...

*Terinspirasi percakapan dengan seorang sahabat